Kurebahkan badan pada sofa yang sudah dekil itu..
Kuambil bungkus djarum coklat, lalu kuambil sebatang..
Kuselipkan di bibir dan kubakar ujungnya..
Kuhisap 60% asapnya ke dalam paru-paru lalu kuhembuskan..
Sepertinya sang gelas berisi kopi di sampingku merasa iri..
Seketika kuambil dan kucumbu bibir gelas itu selayaknya seorang pria menenangkan sang kekasih wanitanya yang dilanda api cemburu.
Ya, seperti roman picisan..
Kutegak air kopi didalamnya..
Lalu aku berpikir sembari dikelilingi kepulan asap kretek tadi..
Apa yang sudah aku lakukan?
Ada apa dengan raut wajahku?
Mengapa kakiku tidak tegas menginjak tanah?
Tidak! bukan itu.
Persoalannya sederhana sekali.
Bukan raut wajahku, tetapi, raut wajahnya..
Tidak, bukan itu..
Bodoh.
Aku terlalu cepat menyimpulkan..
Apa aku harus melanggar ikrar yang sudah kubuat sendiri demi sesuatu yang sentimentil, seperti cinta, misalnya..
Kuhisap lagi rokok itu dan kuhempaskan badanku ke sofa usang tadi..
Untuk saat ini, kupikir hidupku untuk berpikir, bertindak dan bukan untuk mencintainya.
dan, waktu memanggilku untuk kembali menjadi seorang pemikir dan budak..
Perspektif Dari Atas Bukit
Selasa, 05 September 2017
Rabu, 30 Agustus 2017
Me
Kenalin, ini felix. Hehe. Sebelumnya punya blog, tapi ngga pernah dibuka jadi ya bikin yang baru deh. Punya obsesi besar di bidang musik tapi ga terlalu gimana-gimana. Ngerti ga maksudnya? Saya anggep ngerti saja. Hehehe. Impian jadi rockstar tapi bimbang karena keadaan sekitar yang kadang kurang mendukung. Urusan asmara ga usah ditanya lagi. Pasang surut :v
(Post ini sebenernya udah ditulis taun 2012 tapi karna gua males ngepost yaudah gua jadiin draft hehehe)
Langganan:
Komentar (Atom)