Kurebahkan badan pada sofa yang sudah dekil itu..
Kuambil bungkus djarum coklat, lalu kuambil sebatang..
Kuselipkan di bibir dan kubakar ujungnya..
Kuhisap 60% asapnya ke dalam paru-paru lalu kuhembuskan..
Sepertinya sang gelas berisi kopi di sampingku merasa iri..
Seketika kuambil dan kucumbu bibir gelas itu selayaknya seorang pria menenangkan sang kekasih wanitanya yang dilanda api cemburu.
Ya, seperti roman picisan..
Kutegak air kopi didalamnya..
Lalu aku berpikir sembari dikelilingi kepulan asap kretek tadi..
Apa yang sudah aku lakukan?
Ada apa dengan raut wajahku?
Mengapa kakiku tidak tegas menginjak tanah?
Tidak! bukan itu.
Persoalannya sederhana sekali.
Bukan raut wajahku, tetapi, raut wajahnya..
Tidak, bukan itu..
Bodoh.
Aku terlalu cepat menyimpulkan..
Apa aku harus melanggar ikrar yang sudah kubuat sendiri demi sesuatu yang sentimentil, seperti cinta, misalnya..
Kuhisap lagi rokok itu dan kuhempaskan badanku ke sofa usang tadi..
Untuk saat ini, kupikir hidupku untuk berpikir, bertindak dan bukan untuk mencintainya.
dan, waktu memanggilku untuk kembali menjadi seorang pemikir dan budak..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar